Kamis, 28 Februari 2013

my story


                                     
LOVE IS PAINTFULL

Aku menatap jiyong sekali lagi, mengamati setiap goresan sempurna ciptaan TUHAN yang kini ada dihadapanku. Mata cokelat yang selalu membuatku terhanyut tiap kali aku memandangnya. Senyum yang selalu menguatkanku melawan apapun yang lebih kuat dariku.
“ wae??? Kenapa kau menatapku seperti itu”
Ji yong bertanya kepadaku karna merasa aku terlalu lama memandanginya. Aku mengalihkan pandanganku, memandangi langit mendung diatas sana.
“aniyo...aku tak memandangmu.Kau ini gr sekali.” Aku manyun kesal karena merasa malu dya tahu aku memandangnya
“oh ya? Terus kenapa pipimu merah? Kau grogi ya????” jiyong meledekku dan mencoba mendekatkan jarak wajahnya kearahku untuk mengamati pipiku yang semakin merah karena tingkahnya.
“oppa, apa apaan sih,’ku dorong tubuh jiyong menjauh dariku.
Grep..refleks dya memegang tanganku, tanganya yang hangat seolah menjadi selimut tanganku yang dingin saat ini. Aku menundukkan kepalaku, aku tak ingin bertemu pandang dengan dya. Karena dya pasty akan menyadari kalau aku menyukainya.
“ youri...”dya memanggilku
“.....”
Aku masih terus menunduk.
“ lihat aku..” jiyong memintaku untuk memandangnya. Dan aku masih mengalihkan pandanganku,  jiyong kemudian  mendekatkan wajahnya kearahku. Tangannya yang lembut mengangkat wajahku, wajah jiyong kini terlihat jelas olehku. Mata cokelat itu menatapku teduh, jantungku mulai bekerja tak normal, keringat dingin mengucur dari dahiku, dan tanganku pun sedingin es.
 “you ri???”
Dya memanggilku..aku masih menatapnya lekat lekat
“oppa..” Aku berharap jiyong mempunyai perasaan yang sama denganku.
Jiyong hanya menatapku tak melanjutkan bicaranya. Matanya semakin dekat denganku, wajahnya semakin dekat dengan wajahku,aku memejamkan mataku.
“kau sakit????” ujarnya sambil memegang dahiku. Aku memalingkan wajahku malu,karena aku kira jiyong akan menciumku.
“youri..”tiba tiba teriakan seseorang dari jauh memanggilku.
“eoni....”aku memandang kaget kedatangan eoniku yang tiba – tiba datang dihdapanku. Eoni kelihatan cantik sekali, dress pink selutut dibalut dengan syal pink dilehernya benar- benar sempurna untuknya.
Eoni memelukku, aku bisa melihat jiyong terpesona dengan kecantikan eoni. Siapapun namja yang memandangnya pun juga  akan bersikap sama seperti jiyong. Matanya yang cokelat bisa saja berubah menjadi biru bila melihat eoni ku.
“kapan eoni datang? Kenapa gag minta jemput dibandara?”
“eoni ingin bikin kejutan. “ujar eoni melepaskan pelukannya sambil mengusap lembut rambutku.
“ini jiyong ya??”
Ujar eoni mengalihkan pandangannya pada jiyong pun tergagap,lalu mengangguk pelan. Dya salah tingkah,pipinya pun terlihat memerah.
“ jadi ini namja cingumu?”tanya eoni lagi
“hah?” aku dan jiyong bersamaan.
“bu...bukan...eoni...kita tidak pacaran..”jiyong menyanggah
‘iya eoni,mana mungkin jiyong ini pacar ku” tambahku mengelak
“tapi kalian cocok hlo” goda eoni . Aku dan jiyong berpandangan lalu kompak memalingkan muka.*******

“jodohkan aku dengan eonimu” pinta jiyong padaku
“hah”
Aku terkejut sekaligus menahan goresan sakit yang tiba tiba menghantam hatiku.
“aku mencintainya...”
Semudah inikah jiyong jatuh cinta,baru sehari dya melihat eoniku dya langsung jatuh cinta. Padahal aku yang hampir setiap minggu dilihatnya sama sekali tak bisa menyentuh hatinya.
“oppa....” mataku pun tiba tiba berair, rasanya bendungan ini ingin tumpah dihadapan jiyong namun aku menahannya sekuat tenagaku.
“aku mohon.”jiyong meraih tnganku dan berlutut dihadapanku. Aku t
Ak pernah melihat jiyong yang begitu menginginkaan seseorang sampai seperti ini.
“apa kau benar benar mencintai eoni???”tanyaku
Dya mendongakkan wajahnya,kemudian menatapku lekat lekat.
“ ne....saranghaeyo.....”
“jinjja???”
Jiyong mengangguk mantap.******


Pertahananku pun rapuh dibalik pintu kamarku  yang terkunci. Rasanya sakittt sekali, lebih sakit dari penyakit yang kurasakan selama ini.
Aku seperti tak mau hidup lagi karena patah hati, namun aku juga tak ingin melihat jiyong menangisi kepergianku karena dirinya. Dan menyiksanya dengan rasa bersalah seumur hidup karena kepergianku.
Kuseka air mataku dan beranjak ke kamar eoni.
“you ri, kenapa malam malam begini ke kamar eoni.”tanya eoni begitu melihat kedatanganku.
Aku memeluk eoni,tangisku pun pecah.
“youri, kau kenapa?”
Aku masih saja menangis,eoni terlihat panik karna melihatku tak u berhenty menangis.
“eoni sayang padaku?”
“youri kau berkata apa?kau ini kenapa?”
‘jawab saja pertanyaanku eoni..”
“tentu saja aku menyayangimu.”
“kalau begitu eoni.. kbulkan satu saja permintaanku”
Eoni mengelus rambutku lembut,dan mengangguk.
“pacaranlah dengan JIYONG”
“hah...”
“anggap saja ini permintaanku yang terakhir eoni.”
Mungkin aku sudah gila karena meminta eoniku mencintai orang yang aku cintai.
Namun aku akan lebih gila jika melihat orang yang kucintai patah hati karena aku tak memberikan sebuah hati yg tak patah untuknya.*****

Cahaya mentari pagi seolah mengusik tidur lelahku. Siapa sih yang berani mengusik tidurku? Aku paling tak suka jika tidur pagiku terusik,aku akan marah kepada siapapun yang mengusikku di pagi hari,termasuk jiyong. Tapi mana mungkin jiyong muncul dikamarku sepagi ini.
“eoniiii.....tutup kembali gordennya.”ucapku sambil menutupi mukaku karna silau. Aku menarik kembali selimutku dan kembali ke alam mimpiku.
“dasar malas...cepat bangun...kau bisa telat nanti.”
Tunggu... kenapa suara eoni berubah menjadi seperty seorang namja?? Dan namja itu aku kenal sekali suaranyan,bahkan aku hafal meskipun aku memejamkan mata.
Aku meyibakkan selimutku, dan benar...
“oppa.....jiyong...”
Aku tergagap lalu menarik selimutku karena malu jiyong akan melihat wajah ku yng baru bangun tidur.
“you ri... kenapa kau malah tidur lagi, ayo bangun”
Aku tetap meringkuk dibalik selimut.
“oppa....aku akan bangun kalau oppa pergi. Aku gag mau oppa melihat wajahku”
Jiyong menarik selimutku, dan refleks aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
Jiyong meraih kedua pergelangan tanganku. Perlahan membukanya.
“perlihatkan wajahmu”
Ketika jiyong berhasil membuka tanganku,aku memalingkan mukaku.
“youri, lihat aku”
Aku perlahan memandang  jiyong yang kemudian menubrukan tubuhnya kearahku. Dya memelukku, nafasku tertahan.
“oppa...”ucapku lirih
“kamsamhamnida... eoni mu mau jadi pacarku”
“jinja?” aku pura pura bertanya
“ne..saranghaeyo...”
“saraanghaeyyo oppa ucapku lirih
“apa?”jiyong melepaskan pelukannya. Sepertinya dya mendengar lirihanku.
“gwencanayo oppa,”******

Sebulan setelah itu aku tak pernah bertemu dengan jiyong, kalaupun aku bertemu dengannya aku berusaha untuk menghindarinya, aku tak sanggup melihat dya tersenyum karena orang lain,dan bukan karena aku lagi.
“kau sudah siap??” tanya dokter donghae padaku
 Aku tersadar lalu menganguk,kemudian datanglah beberapa perawat yang akan membawaku ke ruang operasi.
Aku sudah terbaring di ruang operasi, dokter donghae dan perawatnya pua sudah siap untuk memulai operasiku.
“tunggu dokter’
“wae?youri?”
“boleh aku menelpon seseorang”
Dokter donghae mengangguk.
Aku memencet beberapa digit nomor lalu terdengar nada sambung dari handphone milik dr.donghae.
“yoboseyo”suara jiyong terdengar jelas dari seberang sana.
“oppa....sa...rang......haeyo.” lalu aku menutup telpon.
“aku sudah siap dokter”
Kupejamkan mataku lalu aku tak ingat apa yang terjadi padaku.*****

Entah sudah berapa lama aku tertidur, entah aku masih berada di alam yang sama dengan jiyong atau bukan aku tak mengerty. Aku perlahan melihat jiyong saat aku membuka mata. Mungkin aku sudah berada dialaam lain saat ini.
“oppa...”ucapku lirih melihat jiyong tertidur dikursi sampingku sambil terus menggenggam tangan kiriku erat.
Jiyong pun terbangun.
“you ri,,,,,,”
Aku berusaha untuk bangun dari posisiku, namun sepertinya kondisiku masih begitu lemah.
“jangan banyak gerak dulu,kau ini masih sakit”
“oppa....”
Aku terharu, aku seperty seseorang yang terlahir kembali dan melihat jiyong untuk pertama kali dalam hidup baruku.
“youri.... saranghaeyo..”
Aku kaget jiyong mengucapkan hal yan sudah lama iingin kudengar. Jiyong menatapku lalu memelukku,
“oppa....tapi aku”
“aku tau... aku tak peduli seberapa banyak waktumu untukku, aku akan mencintaimu lebih banyak dari waktu yang kau punya untukku.”
Jiyong melepaskan pelukannya. Lalu menghapus air mataku yang kini tak bisa kuhapus dengan tanganku sendiri. Entah dari mana jiyong tau tentang penyakitku, tentang operasi amputasi tanganku karena penyakitku.
“dengarkan aku baik baik. Aku bersedia menjadi tanganmu untukmu menulis, menjadi mata untukmu melihat, menjadi kaki untukmu melangkah,menjadi telinga untukmu mendengar, bahkan aku bersedia menjadi nyawa untukmu hidup. Jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku karna penyakitmu,karena aku takkan pernah meninggalkanmu apapun penyakitmu”
“oppa,,maafkan aku”
“saranghaeyo youri”
“saranghaeyo oppa”
Aku kehilangan sesuatu namun TUHAN memberiku hal yang lebih untukku.

Endstory:
Aku mencintaimu namun aku tak ingin menjadi beban untukmu.
Buat donghae ahjusi....saranghaeyo...moga engkau bahagya dengan seseorang yang kupilihkan untukmu #jleb ^_^bbbbb jlebbnbbbb ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar